Kamis, 04 September 2014

Tradisi suku Damal sudah terlupakan

KEPEMIMIPINAN TRADISIONAL SUKU DAMAL  ( KEPALA SUKU)

Dalam kebudayan Suku Damal, kepala suku disebut juga dengan pemimpin adat,  pemimpin adat itu sendiri  di bagi menjadi lima bagian dan memiliki peranannya masing-masing, yaitu
1.      Menagawan
2.      Kalwang
3.      Dewan Adat
4.      Wem Wang
5.      Wem  mum
           Dalam kebudayaan suku Dalam criteria untuk menjadi pemimpin adat, tidak harus ditentukan oleh garis keturunan. Pemimpin dapat muncul secara alamiah oleh proses waktu dan situasi social, serta lingkungan ekologis yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan taradisional pada tingkat budaya mereka sendiri.
           Kepemimpinan dalam kebudayaan suku Damal merupakan suatu peranan atau tugas yang kompleks, sehingga cirri-ciri, tipe, gaya, dan fungsi serta peranan-peranan dan model kepemimpinan yang di per
            Lukan bersifat situasional. Artinya seorang figur pemimpin formal maupun informal dalam pandangan tradisional dapat melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan sesuai dengan karakteristik kebudayaan masyarakat tradisional tersebut.






1.     Menagawan ( pemimpin)
Seorang pemimpin dengan sebutan menagawan dalam kebudayaan Damal adalah seorang figure yang bijaksana dan dapat menepati janji sesuai skala tujuan, skala waktu dan skala metode. Menagawan berkewajiban untuk memastikan cukup makanan, minuman, serta bentuk kesejahteraan lainnya. Dia harus mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakatnya. Seorang Menagawan harus memperjuangkan keadilan dan pemerataan dengan landasan satu untuk semua dan semua untuk satu.
Dari uraian diatas, bahwa untuk menjadi seorang Menagawan harus memiliki perilaku kepemimpinan dengan cirri-ciri sebagai berikut:
·         Kemampuan menggunakan harta benda (Ekonomis)
·         Orang-orang marjinal yang memiliki lahan tanah yang luas, dengan ternak babi dalam jumlah banyak.
·         Dapat menyelenggarakan pesta adat berupa: babi, keladi, tebu dan buah pandan untuk member makan kepada orang banyak.
·         Memimiliki kemampuan dan keterampilan khusus dalam pertukaran kulit bia (uang batu), dan investasi modal melalui saluran-saluran media pasar.
·         Dapat mengawinkan anak-anak, keponakan dan bahkan orang tidak mampu.
·         Kemampuan mengambil pohon keputusan dengan pertimbangan intuitif secara cepat dan tepat sasaran.
·         Mempunyai tipe kepemimpinan kharismatik dengan kekuatan ajaib.
·         Memiliki keterampilan dalam intervensi situasional untuk menyelesaikan berbagai konflik situasi di masyarakat.
·         Tidak banyak memberikan janji-janji palsu, tetapi dapat menepati janji.
·         Memiliki kemampuan untuk mempersatukan kelompok etnis yang berbeda.
·         Dapat membangun tertib moral dan integritas masyarakat dengan member contoh yang baik. Dalam hal ini tidak diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi.
·         Siap sediah melayani semua orang kapan dan dimana saja, tanpa diskriminasi atau pilih kasih
        Jika keduabelas cirri perilaku tersebut diatas melekat dalam diri seseorang, dia pasti mendapatkan gelar Menagawan (kepala Suku). Yaitu menjadi pemimpin formal maupun informal di masyarakat. Oleh karena itu, hakekat dari pengertian Menagawan  sebenarnya adalah pemimpin popular bukan pempimpin tugas atau pemimpin fungsional dalam arti sebenarnya.

2.     Kal Wang (Kepala)
              Dalam kebudayaan Damal, predikat Kal wang adalah pemimpin informal yang di akui dan dihargai sebagi kepala suku, ketua dewan adat, tokoh pemudah ataupun kepala dusun. Pengakuan publik terhadap status mereka biasanya didapatkan dengan cara me manipulasi “orang-orang” dengan persepsi terhadap situasi, kepentingan dan keputusan mereka.
               Sifat kepemimpinan Kalwang terbatas pada peranan tugas sesuai dengan situasi dan fungsinya. Dan bahkan aktivitasnya lebih terfokus pada hal-hal yang berhubungan lanngsung dengan adat_ istiadat etnis yang di wakilinya. Mereka di pandang sebagai mediator yang tepat dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat.
Seorang figure pemimpin situasional dalam kebudayaan Damal dengan gelar KAL WANG memiliki cirri-ciri perilaku sebagai berikut:
·         Keahlian berbicara atau berdebat sebagai orator alamiah.
·         Memiliki kemampuan berpikir logis dan rasional
·         Mempunyai keterampilan berkomunikasi dan bahasa budaya sub-kultur etnis.
·         Memahami, menguasai dan mengerti bahasa tulisan, lisan, kiasan, perumpamaan, lukisan, ilustarasi dan simbol-simbol lain yang releval dengan konteks persoalan yang sedang dihadapi.





Namun seiring dengan perkembangan waktu, tugas dan peran “Kalwang” semakin tidak popular di mata mata masyarakat. Figure kalwang dianggap tidak cocok  lagi pada situasi masa kini. Alasannya.
1.      Kalwang hanya banyak berbicara, tapi tidak pernah merealisasikan isi pembicaraannya.
2.      Tingkat kejenuhan anggota masyarakat terhadap figur kalwang yang tidak pernah diganti posisi. Mereka cenderung mempertahankan “status Quo” dari waktu ke waktu.
3. Dewan Adat
           Dewan adat memiliki hak otoritas dalam masyarakat. Mereka diberi gelar NARA NEM dan NARA WOLAN.  Ke dua istilah tersebut bermakna  untuk mengambarkan isi hati sanubari seorang pemimpin formal mapun informal dalam mengambil keputusan.
Tugas dan fungsi dewan adat dalam masyarakat Damal cukup kompleks. Mereka berwenang mengatur dan menentukan berbagai hal diantaranya:
·         Mengatur etika perilaku anggota masyarakat dengan penegakkan hokum adat.
·         Memberikan pertimbangan pada “pohon keputusan” tentang hokum moral menyakut baik-buruk, serta  hak dan kewajiban anggota komunitas.
·         Memberi peluang (kesempatan) bagi setiap anggota kelompok primer untuk menetukan pilihan sendiri tentang hak hidup dalam masyarakat (hak asasi manusia).
·         Memelihara, merawat, menjaga, mengawasi dan melarang atau menyetujui hal-hal yang menyangkut:
1.      Hak ulayat masyarakat adat atas tanah
2.      Pengaturan batas wilayah pemukiman penduduk suku-suku asli.
3.      Pengaturan norma-norma perkawinan dan hubungan-hubungan sosial antar etnis.



4.         Wem Wang
        Wem wang adalah seorang pemimpin yang menguasai atau dianggap memiliki kemampuan mengatur siasat, taktis dan strategi perang suku. Mereka dianggap memiliki kesaktian atau kekuatan mistik yang dapat mengalahkan musuhm, jadi figure Wem Wang sebenarnya pemimpin tugas yang hanya mengatur pasukan selama kegiatan perang suku berlangsung, sehingga mereka dapat disebut sebagai pemimpin situasional.

5.     Wem Mum

Wem Mum adalah seorang pokok perang yang bertanggungjawab atas pengorbanan jiwa selama perang suku. Figure pemimpin ini harus menanggung resiko tinggi, walaupun situasi perang suku telah selesai atau aman. Karena sewaktu-waktu pihak korban dapat menuntut kembali atas pengorbanan sanak saudaranya yang gugur selama perang suku tersebut.
Dalam kebudayaan suku Damal, hukuman seperti ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik perang suku, sehingga tercipta perdamaian dan  hidup bertetangga yang rukun. Dengan demikian, hubungan permusuhan dapat dipulihkan kembali atau menjadi normal, tanpa ada sentiment dan dendam terselubung akibat peristiwa-peristiwa perang di masa lampau.

Namun, perjalanan menuju perdamaian tidak semudah yang dibayangkan. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan perundingan dan dialog kemanusian bersama kelopok korban. Langka-langka menuju perdamaian harus ditaati.

Setelah ada kesepakatan kedua belah pihak, rakyat melakukan pembersihan diri, yakni  membuang semua atribut perang. Jika tahap itu usai barulah dilaksanakan masak makanan dan memberikan makan kepada prajurit-perajurit yang selesai berlaga di medan pertempuran.

Tahapan berikut pihak penanggungjawab memasak makanan dan memberikan kepada kaum perempuan . tentu yang menjamu mereka adalah Wem Mum, setelah itu  persiapan untuk bakar batu maka makan bersama yang disebut woem kama (tidak ada perang lagi).

Tradisi suku Damal sudah terlupakan

KEPEMIMIPINAN TRADISIONAL SUKU DAMAL  ( KEPALA SUKU)

Dalam kebudayan Suku Damal, kepala suku disebut juga dengan pemimpin adat,  pemimpin adat itu sendiri  di bagi menjadi lima bagian dan memiliki peranannya masing-masing, yaitu
1.      Menagawan
2.      Kalwang
3.      Dewan Adat
4.      Wem Wang
5.      Wem  mum
           Dalam kebudayaan suku Dalam criteria untuk menjadi pemimpin adat, tidak harus ditentukan oleh garis keturunan. Pemimpin dapat muncul secara alamiah oleh proses waktu dan situasi social, serta lingkungan ekologis yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan taradisional pada tingkat budaya mereka sendiri.
           Kepemimpinan dalam kebudayaan suku Damal merupakan suatu peranan atau tugas yang kompleks, sehingga cirri-ciri, tipe, gaya, dan fungsi serta peranan-peranan dan model kepemimpinan yang di per
            Lukan bersifat situasional. Artinya seorang figur pemimpin formal maupun informal dalam pandangan tradisional dapat melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan sesuai dengan karakteristik kebudayaan masyarakat tradisional tersebut.






1.     Menagawan ( pemimpin)
Seorang pemimpin dengan sebutan menagawan dalam kebudayaan Damal adalah seorang figure yang bijaksana dan dapat menepati janji sesuai skala tujuan, skala waktu dan skala metode. Menagawan berkewajiban untuk memastikan cukup makanan, minuman, serta bentuk kesejahteraan lainnya. Dia harus mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakatnya. Seorang Menagawan harus memperjuangkan keadilan dan pemerataan dengan landasan satu untuk semua dan semua untuk satu.
Dari uraian diatas, bahwa untuk menjadi seorang Menagawan harus memiliki perilaku kepemimpinan dengan cirri-ciri sebagai berikut:
·         Kemampuan menggunakan harta benda (Ekonomis)
·         Orang-orang marjinal yang memiliki lahan tanah yang luas, dengan ternak babi dalam jumlah banyak.
·         Dapat menyelenggarakan pesta adat berupa: babi, keladi, tebu dan buah pandan untuk member makan kepada orang banyak.
·         Memimiliki kemampuan dan keterampilan khusus dalam pertukaran kulit bia (uang batu), dan investasi modal melalui saluran-saluran media pasar.
·         Dapat mengawinkan anak-anak, keponakan dan bahkan orang tidak mampu.
·         Kemampuan mengambil pohon keputusan dengan pertimbangan intuitif secara cepat dan tepat sasaran.
·         Mempunyai tipe kepemimpinan kharismatik dengan kekuatan ajaib.
·         Memiliki keterampilan dalam intervensi situasional untuk menyelesaikan berbagai konflik situasi di masyarakat.
·         Tidak banyak memberikan janji-janji palsu, tetapi dapat menepati janji.
·         Memiliki kemampuan untuk mempersatukan kelompok etnis yang berbeda.
·         Dapat membangun tertib moral dan integritas masyarakat dengan member contoh yang baik. Dalam hal ini tidak diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi.
·         Siap sediah melayani semua orang kapan dan dimana saja, tanpa diskriminasi atau pilih kasih
        Jika keduabelas cirri perilaku tersebut diatas melekat dalam diri seseorang, dia pasti mendapatkan gelar Menagawan (kepala Suku). Yaitu menjadi pemimpin formal maupun informal di masyarakat. Oleh karena itu, hakekat dari pengertian Menagawan  sebenarnya adalah pemimpin popular bukan pempimpin tugas atau pemimpin fungsional dalam arti sebenarnya.

2.     Kal Wang (Kepala)
              Dalam kebudayaan Damal, predikat Kal wang adalah pemimpin informal yang di akui dan dihargai sebagi kepala suku, ketua dewan adat, tokoh pemudah ataupun kepala dusun. Pengakuan publik terhadap status mereka biasanya didapatkan dengan cara me manipulasi “orang-orang” dengan persepsi terhadap situasi, kepentingan dan keputusan mereka.
               Sifat kepemimpinan Kalwang terbatas pada peranan tugas sesuai dengan situasi dan fungsinya. Dan bahkan aktivitasnya lebih terfokus pada hal-hal yang berhubungan lanngsung dengan adat_ istiadat etnis yang di wakilinya. Mereka di pandang sebagai mediator yang tepat dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat.
Seorang figure pemimpin situasional dalam kebudayaan Damal dengan gelar KAL WANG memiliki cirri-ciri perilaku sebagai berikut:
·         Keahlian berbicara atau berdebat sebagai orator alamiah.
·         Memiliki kemampuan berpikir logis dan rasional
·         Mempunyai keterampilan berkomunikasi dan bahasa budaya sub-kultur etnis.
·         Memahami, menguasai dan mengerti bahasa tulisan, lisan, kiasan, perumpamaan, lukisan, ilustarasi dan simbol-simbol lain yang releval dengan konteks persoalan yang sedang dihadapi.





Namun seiring dengan perkembangan waktu, tugas dan peran “Kalwang” semakin tidak popular di mata mata masyarakat. Figure kalwang dianggap tidak cocok  lagi pada situasi masa kini. Alasannya.
1.      Kalwang hanya banyak berbicara, tapi tidak pernah merealisasikan isi pembicaraannya.
2.      Tingkat kejenuhan anggota masyarakat terhadap figur kalwang yang tidak pernah diganti posisi. Mereka cenderung mempertahankan “status Quo” dari waktu ke waktu.
3. Dewan Adat
           Dewan adat memiliki hak otoritas dalam masyarakat. Mereka diberi gelar NARA NEM dan NARA WOLAN.  Ke dua istilah tersebut bermakna  untuk mengambarkan isi hati sanubari seorang pemimpin formal mapun informal dalam mengambil keputusan.
Tugas dan fungsi dewan adat dalam masyarakat Damal cukup kompleks. Mereka berwenang mengatur dan menentukan berbagai hal diantaranya:
·         Mengatur etika perilaku anggota masyarakat dengan penegakkan hokum adat.
·         Memberikan pertimbangan pada “pohon keputusan” tentang hokum moral menyakut baik-buruk, serta  hak dan kewajiban anggota komunitas.
·         Memberi peluang (kesempatan) bagi setiap anggota kelompok primer untuk menetukan pilihan sendiri tentang hak hidup dalam masyarakat (hak asasi manusia).
·         Memelihara, merawat, menjaga, mengawasi dan melarang atau menyetujui hal-hal yang menyangkut:
1.      Hak ulayat masyarakat adat atas tanah
2.      Pengaturan batas wilayah pemukiman penduduk suku-suku asli.
3.      Pengaturan norma-norma perkawinan dan hubungan-hubungan sosial antar etnis.



4.         Wem Wang
        Wem wang adalah seorang pemimpin yang menguasai atau dianggap memiliki kemampuan mengatur siasat, taktis dan strategi perang suku. Mereka dianggap memiliki kesaktian atau kekuatan mistik yang dapat mengalahkan musuhm, jadi figure Wem Wang sebenarnya pemimpin tugas yang hanya mengatur pasukan selama kegiatan perang suku berlangsung, sehingga mereka dapat disebut sebagai pemimpin situasional.

5.     Wem Mum

Wem Mum adalah seorang pokok perang yang bertanggungjawab atas pengorbanan jiwa selama perang suku. Figure pemimpin ini harus menanggung resiko tinggi, walaupun situasi perang suku telah selesai atau aman. Karena sewaktu-waktu pihak korban dapat menuntut kembali atas pengorbanan sanak saudaranya yang gugur selama perang suku tersebut.
Dalam kebudayaan suku Damal, hukuman seperti ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik perang suku, sehingga tercipta perdamaian dan  hidup bertetangga yang rukun. Dengan demikian, hubungan permusuhan dapat dipulihkan kembali atau menjadi normal, tanpa ada sentiment dan dendam terselubung akibat peristiwa-peristiwa perang di masa lampau.

Namun, perjalanan menuju perdamaian tidak semudah yang dibayangkan. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan perundingan dan dialog kemanusian bersama kelopok korban. Langka-langka menuju perdamaian harus ditaati.

Setelah ada kesepakatan kedua belah pihak, rakyat melakukan pembersihan diri, yakni  membuang semua atribut perang. Jika tahap itu usai barulah dilaksanakan masak makanan dan memberikan makan kepada prajurit-perajurit yang selesai berlaga di medan pertempuran.

Tahapan berikut pihak penanggungjawab memasak makanan dan memberikan kepada kaum perempuan . tentu yang menjamu mereka adalah Wem Mum, setelah itu  persiapan untuk bakar batu maka makan bersama yang disebut woem kama (tidak ada perang lagi).

Tradisi suku Damal sudah terlupakan

KEPEMIMIPINAN TRADISIONAL SUKU DAMAL  ( KEPALA SUKU)

Dalam kebudayan Suku Damal, kepala suku disebut juga dengan pemimpin adat,  pemimpin adat itu sendiri  di bagi menjadi lima bagian dan memiliki peranannya masing-masing, yaitu
1.      Menagawan
2.      Kalwang
3.      Dewan Adat
4.      Wem Wang
5.      Wem  mum
           Dalam kebudayaan suku Dalam criteria untuk menjadi pemimpin adat, tidak harus ditentukan oleh garis keturunan. Pemimpin dapat muncul secara alamiah oleh proses waktu dan situasi social, serta lingkungan ekologis yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan taradisional pada tingkat budaya mereka sendiri.
           Kepemimpinan dalam kebudayaan suku Damal merupakan suatu peranan atau tugas yang kompleks, sehingga cirri-ciri, tipe, gaya, dan fungsi serta peranan-peranan dan model kepemimpinan yang di per
            Lukan bersifat situasional. Artinya seorang figur pemimpin formal maupun informal dalam pandangan tradisional dapat melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan sesuai dengan karakteristik kebudayaan masyarakat tradisional tersebut.

1.     Menagawan ( pemimpin)
Seorang pemimpin dengan sebutan menagawan dalam kebudayaan Damal adalah seorang figure yang bijaksana dan dapat menepati janji sesuai skala tujuan, skala waktu dan skala metode. Menagawan berkewajiban untuk memastikan cukup makanan, minuman, serta bentuk kesejahteraan lainnya. Dia harus mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakatnya. Seorang Menagawan harus memperjuangkan keadilan dan pemerataan dengan landasan satu untuk semua dan semua untuk satu.
Dari uraian diatas, bahwa untuk menjadi seorang Menagawan harus memiliki perilaku kepemimpinan dengan cirri-ciri sebagai berikut:
·         Kemampuan menggunakan harta benda (Ekonomis)
·         Orang-orang marjinal yang memiliki lahan tanah yang luas, dengan ternak babi dalam jumlah banyak.
·         Dapat menyelenggarakan pesta adat berupa: babi, keladi, tebu dan buah pandan untuk member makan kepada orang banyak.
·         Memimiliki kemampuan dan keterampilan khusus dalam pertukaran kulit bia (uang batu), dan investasi modal melalui saluran-saluran media pasar.
·         Dapat mengawinkan anak-anak, keponakan dan bahkan orang tidak mampu.
·         Kemampuan mengambil pohon keputusan dengan pertimbangan intuitif secara cepat dan tepat sasaran.
·         Mempunyai tipe kepemimpinan kharismatik dengan kekuatan ajaib.
·         Memiliki keterampilan dalam intervensi situasional untuk menyelesaikan berbagai konflik situasi di masyarakat.
·         Tidak banyak memberikan janji-janji palsu, tetapi dapat menepati janji.
·         Memiliki kemampuan untuk mempersatukan kelompok etnis yang berbeda.
·         Dapat membangun tertib moral dan integritas masyarakat dengan member contoh yang baik. Dalam hal ini tidak diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi.
·         Siap sediah melayani semua orang kapan dan dimana saja, tanpa diskriminasi atau pilih kasih
        Jika keduabelas cirri perilaku tersebut diatas melekat dalam diri seseorang, dia pasti mendapatkan gelar Menagawan (kepala Suku). Yaitu menjadi pemimpin formal maupun informal di masyarakat. Oleh karena itu, hakekat dari pengertian Menagawan  sebenarnya adalah pemimpin popular bukan pempimpin tugas atau pemimpin fungsional dalam arti sebenarnya.

2.     Kal Wang (Kepala)
              Dalam kebudayaan Damal, predikat Kal wang adalah pemimpin informal yang di akui dan dihargai sebagi kepala suku, ketua dewan adat, tokoh pemudah ataupun kepala dusun. Pengakuan publik terhadap status mereka biasanya didapatkan dengan cara me manipulasi “orang-orang” dengan persepsi terhadap situasi, kepentingan dan keputusan mereka.
               Sifat kepemimpinan Kalwang terbatas pada peranan tugas sesuai dengan situasi dan fungsinya. Dan bahkan aktivitasnya lebih terfokus pada hal-hal yang berhubungan lanngsung dengan adat_ istiadat etnis yang di wakilinya. Mereka di pandang sebagai mediator yang tepat dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat.
Seorang figure pemimpin situasional dalam kebudayaan Damal dengan gelar KAL WANG memiliki cirri-ciri perilaku sebagai berikut:
·         Keahlian berbicara atau berdebat sebagai orator alamiah.
·         Memiliki kemampuan berpikir logis dan rasional
·         Mempunyai keterampilan berkomunikasi dan bahasa budaya sub-kultur etnis.
·         Memahami, menguasai dan mengerti bahasa tulisan, lisan, kiasan, perumpamaan, lukisan, ilustarasi dan simbol-simbol lain yang releval dengan konteks persoalan yang sedang dihadapi.





Namun seiring dengan perkembangan waktu, tugas dan peran “Kalwang” semakin tidak popular di mata mata masyarakat. Figure kalwang dianggap tidak cocok  lagi pada situasi masa kini. Alasannya.
1.      Kalwang hanya banyak berbicara, tapi tidak pernah merealisasikan isi pembicaraannya.
2.      Tingkat kejenuhan anggota masyarakat terhadap figur kalwang yang tidak pernah diganti posisi. Mereka cenderung mempertahankan “status Quo” dari waktu ke waktu.
3. Dewan Adat
           Dewan adat memiliki hak otoritas dalam masyarakat. Mereka diberi gelar NARA NEM dan NARA WOLAN.  Ke dua istilah tersebut bermakna  untuk mengambarkan isi hati sanubari seorang pemimpin formal mapun informal dalam mengambil keputusan.
Tugas dan fungsi dewan adat dalam masyarakat Damal cukup kompleks. Mereka berwenang mengatur dan menentukan berbagai hal diantaranya:
·         Mengatur etika perilaku anggota masyarakat dengan penegakkan hokum adat.
·         Memberikan pertimbangan pada “pohon keputusan” tentang hokum moral menyakut baik-buruk, serta  hak dan kewajiban anggota komunitas.
·         Memberi peluang (kesempatan) bagi setiap anggota kelompok primer untuk menetukan pilihan sendiri tentang hak hidup dalam masyarakat (hak asasi manusia).
·         Memelihara, merawat, menjaga, mengawasi dan melarang atau menyetujui hal-hal yang menyangkut:
1.      Hak ulayat masyarakat adat atas tanah
2.      Pengaturan batas wilayah pemukiman penduduk suku-suku asli.
3.      Pengaturan norma-norma perkawinan dan hubungan-hubungan sosial antar etnis.



4.         Wem Wang
        Wem wang adalah seorang pemimpin yang menguasai atau dianggap memiliki kemampuan mengatur siasat, taktis dan strategi perang suku. Mereka dianggap memiliki kesaktian atau kekuatan mistik yang dapat mengalahkan musuhm, jadi figure Wem Wang sebenarnya pemimpin tugas yang hanya mengatur pasukan selama kegiatan perang suku berlangsung, sehingga mereka dapat disebut sebagai pemimpin situasional.

5.     Wem Mum

Wem Mum adalah seorang pokok perang yang bertanggungjawab atas pengorbanan jiwa selama perang suku. Figure pemimpin ini harus menanggung resiko tinggi, walaupun situasi perang suku telah selesai atau aman. Karena sewaktu-waktu pihak korban dapat menuntut kembali atas pengorbanan sanak saudaranya yang gugur selama perang suku tersebut.
Dalam kebudayaan suku Damal, hukuman seperti ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik perang suku, sehingga tercipta perdamaian dan  hidup bertetangga yang rukun. Dengan demikian, hubungan permusuhan dapat dipulihkan kembali atau menjadi normal, tanpa ada sentiment dan dendam terselubung akibat peristiwa-peristiwa perang di masa lampau.

Namun, perjalanan menuju perdamaian tidak semudah yang dibayangkan. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan perundingan dan dialog kemanusian bersama kelopok korban. Langka-langka menuju perdamaian harus ditaati.

Setelah ada kesepakatan kedua belah pihak, rakyat melakukan pembersihan diri, yakni  membuang semua atribut perang. Jika tahap itu usai barulah dilaksanakan masak makanan dan memberikan makan kepada prajurit-perajurit yang selesai berlaga di medan pertempuran.

Tahapan berikut pihak penanggungjawab memasak makanan dan memberikan kepada kaum perempuan . tentu yang menjamu mereka adalah Wem Mum, setelah itu  persiapan untuk bakar batu maka makan bersama yang disebut woem kama (tidak ada perang lagi).