KEPEMIMIPINAN TRADISIONAL SUKU
DAMAL ( KEPALA SUKU)
Dalam
kebudayan Suku Damal, kepala suku disebut juga dengan pemimpin adat, pemimpin adat itu sendiri di bagi menjadi lima bagian dan memiliki
peranannya masing-masing, yaitu
1. Menagawan
2. Kalwang
3. Dewan
Adat
4. Wem
Wang
5. Wem mum
Dalam kebudayaan suku Dalam criteria
untuk menjadi pemimpin adat, tidak harus ditentukan oleh garis keturunan.
Pemimpin dapat muncul secara alamiah oleh proses waktu dan situasi social,
serta lingkungan ekologis yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan taradisional
pada tingkat budaya mereka sendiri.
Kepemimpinan dalam kebudayaan suku
Damal merupakan suatu peranan atau tugas yang kompleks, sehingga cirri-ciri,
tipe, gaya, dan fungsi serta peranan-peranan dan model kepemimpinan yang di per
Lukan bersifat situasional. Artinya
seorang figur pemimpin formal maupun informal dalam pandangan tradisional dapat
melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan sesuai dengan karakteristik kebudayaan
masyarakat tradisional tersebut.
1.
Menagawan
( pemimpin)
Seorang
pemimpin dengan sebutan menagawan dalam kebudayaan Damal adalah seorang figure
yang bijaksana dan dapat menepati janji sesuai skala tujuan, skala waktu dan
skala metode. Menagawan berkewajiban untuk memastikan cukup makanan, minuman,
serta bentuk kesejahteraan lainnya. Dia harus mengatasi berbagai permasalahan
yang dihadapi masyarakatnya. Seorang Menagawan harus memperjuangkan keadilan
dan pemerataan dengan landasan satu untuk semua dan semua untuk satu.
Dari
uraian diatas, bahwa untuk menjadi seorang Menagawan harus memiliki perilaku
kepemimpinan dengan cirri-ciri sebagai berikut:
·
Kemampuan menggunakan harta benda
(Ekonomis)
·
Orang-orang marjinal yang memiliki lahan
tanah yang luas, dengan ternak babi dalam jumlah banyak.
·
Dapat menyelenggarakan pesta adat
berupa: babi, keladi, tebu dan buah pandan untuk member makan kepada orang
banyak.
·
Memimiliki kemampuan dan keterampilan
khusus dalam pertukaran kulit bia (uang batu), dan investasi modal melalui
saluran-saluran media pasar.
·
Dapat mengawinkan anak-anak, keponakan
dan bahkan orang tidak mampu.
·
Kemampuan mengambil pohon keputusan
dengan pertimbangan intuitif secara cepat dan tepat sasaran.
·
Mempunyai tipe kepemimpinan kharismatik
dengan kekuatan ajaib.
·
Memiliki keterampilan dalam intervensi
situasional untuk menyelesaikan berbagai konflik situasi di masyarakat.
·
Tidak banyak memberikan janji-janji
palsu, tetapi dapat menepati janji.
·
Memiliki kemampuan untuk mempersatukan
kelompok etnis yang berbeda.
·
Dapat membangun tertib moral dan
integritas masyarakat dengan member contoh yang baik. Dalam hal ini tidak
diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi.
·
Siap sediah melayani semua orang kapan
dan dimana saja, tanpa diskriminasi atau pilih kasih
Jika keduabelas cirri perilaku tersebut
diatas melekat dalam diri seseorang, dia pasti mendapatkan gelar Menagawan
(kepala Suku). Yaitu menjadi pemimpin formal maupun informal di masyarakat.
Oleh karena itu, hakekat dari pengertian Menagawan sebenarnya adalah pemimpin popular bukan
pempimpin tugas atau pemimpin fungsional dalam arti sebenarnya.
2.
Kal
Wang (Kepala)
Dalam kebudayaan Damal, predikat
Kal wang adalah pemimpin informal yang di akui dan dihargai sebagi kepala suku,
ketua dewan adat, tokoh pemudah ataupun kepala dusun. Pengakuan publik terhadap
status mereka biasanya didapatkan dengan cara me manipulasi “orang-orang”
dengan persepsi terhadap situasi, kepentingan dan keputusan mereka.
Sifat kepemimpinan Kalwang
terbatas pada peranan tugas sesuai dengan situasi dan fungsinya. Dan bahkan
aktivitasnya lebih terfokus pada hal-hal yang berhubungan lanngsung dengan
adat_ istiadat etnis yang di wakilinya. Mereka di pandang sebagai mediator yang
tepat dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat.
Seorang
figure pemimpin situasional dalam kebudayaan Damal dengan gelar KAL WANG
memiliki cirri-ciri perilaku sebagai berikut:
·
Keahlian berbicara atau berdebat sebagai
orator alamiah.
·
Memiliki kemampuan berpikir logis dan
rasional
·
Mempunyai keterampilan berkomunikasi dan
bahasa budaya sub-kultur etnis.
·
Memahami, menguasai dan mengerti bahasa
tulisan, lisan, kiasan, perumpamaan, lukisan, ilustarasi dan simbol-simbol lain
yang releval dengan konteks persoalan yang sedang dihadapi.
Namun
seiring dengan perkembangan waktu, tugas dan peran “Kalwang” semakin tidak
popular di mata mata masyarakat. Figure kalwang dianggap tidak cocok lagi pada situasi masa kini. Alasannya.
1. Kalwang
hanya banyak berbicara, tapi tidak pernah merealisasikan isi pembicaraannya.
2. Tingkat
kejenuhan anggota masyarakat terhadap figur kalwang yang tidak pernah diganti
posisi. Mereka cenderung mempertahankan “status Quo” dari waktu ke waktu.
3. Dewan Adat
Dewan
adat memiliki hak otoritas dalam masyarakat. Mereka diberi gelar NARA NEM dan
NARA WOLAN. Ke dua istilah tersebut
bermakna untuk mengambarkan isi hati
sanubari seorang pemimpin formal mapun informal dalam mengambil keputusan.
Tugas
dan fungsi dewan adat dalam masyarakat Damal cukup kompleks. Mereka berwenang
mengatur dan menentukan berbagai hal diantaranya:
·
Mengatur etika perilaku anggota
masyarakat dengan penegakkan hokum adat.
·
Memberikan pertimbangan pada “pohon
keputusan” tentang hokum moral menyakut baik-buruk, serta hak dan kewajiban anggota komunitas.
·
Memberi peluang (kesempatan) bagi setiap
anggota kelompok primer untuk menetukan pilihan sendiri tentang hak hidup dalam
masyarakat (hak asasi manusia).
·
Memelihara, merawat, menjaga, mengawasi
dan melarang atau menyetujui hal-hal yang menyangkut:
1. Hak
ulayat masyarakat adat atas tanah
2. Pengaturan
batas wilayah pemukiman penduduk suku-suku asli.
3. Pengaturan
norma-norma perkawinan dan hubungan-hubungan sosial antar etnis.
4.
Wem
Wang
Wem wang adalah seorang pemimpin yang
menguasai atau dianggap memiliki kemampuan mengatur siasat, taktis dan strategi
perang suku. Mereka dianggap memiliki kesaktian atau kekuatan mistik yang dapat
mengalahkan musuhm, jadi figure Wem Wang sebenarnya pemimpin tugas yang hanya
mengatur pasukan selama kegiatan perang suku berlangsung, sehingga mereka dapat
disebut sebagai pemimpin situasional.
5.
Wem
Mum
Wem
Mum adalah seorang pokok perang yang bertanggungjawab atas pengorbanan jiwa
selama perang suku. Figure pemimpin ini harus menanggung resiko tinggi,
walaupun situasi perang suku telah selesai atau aman. Karena sewaktu-waktu
pihak korban dapat menuntut kembali atas pengorbanan sanak saudaranya yang
gugur selama perang suku tersebut.
Dalam kebudayaan suku
Damal, hukuman seperti ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik
perang suku, sehingga tercipta perdamaian dan
hidup bertetangga yang rukun. Dengan demikian, hubungan permusuhan dapat
dipulihkan kembali atau menjadi normal, tanpa ada sentiment dan dendam
terselubung akibat peristiwa-peristiwa perang di masa lampau.
Namun,
perjalanan menuju perdamaian tidak semudah yang dibayangkan. Ada tahapan-tahapan
yang harus dilalui dengan perundingan dan dialog kemanusian bersama kelopok
korban. Langka-langka menuju perdamaian harus ditaati.
Setelah
ada kesepakatan kedua belah pihak, rakyat melakukan pembersihan diri, yakni membuang semua atribut perang. Jika tahap itu
usai barulah dilaksanakan masak makanan dan memberikan makan kepada
prajurit-perajurit yang selesai berlaga di medan pertempuran.
Tahapan berikut pihak
penanggungjawab memasak makanan dan memberikan kepada kaum perempuan . tentu
yang menjamu mereka adalah Wem Mum, setelah itu
persiapan untuk bakar batu maka makan bersama yang disebut woem kama
(tidak ada perang lagi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar