Kamis, 04 September 2014

Tradisi suku Damal sudah

DASAR IMAN KRISTEN OLEH ORANG DAMAL
A. TUHAN ALLAH
Secara umum ,pembahasan ini memang akan memahami kesulitan,sebab kamu tidak mau penjelasan ini diuraikan secara teologis (pembicaraan menggenai Tuhan Allah) dan secara dokmatis (ajaran). Namun penjelasan secara teologis dan dogmatis ini merupakan keharusan. Oleh sebab itu, keteranggan ini dapat disederhanakan sehingga diharapkan dicerna oleh pembaca nonteologi. Melalui pembahasan melalui teologis dan dogmatis diharapkan para pembaca,khususnya nonteologis,akan memperoleh gambaran mendasar (walaupun minimal) tentang teologi ajaran-ajaran Kristen. Jadi penulis tidak bermaksud untuk menerangkan sesuai  dengan ukuran kualitas dan kuantitas yang diajukan kepada pembaca atau yang berlatar belakang teologi.


  1. Beberapa Argumentasi Tentang Adanya Tuhan Allah

Ada pendapat bahwa dalam konteks ini,istilah (Buku) lebih cocok dipakai daripada "Argumentasi". Namun istilah bukti terlalu normatif untuk menjelaskan tentang adanya Tuhan Allah. Dalam penjelasan ini yang dipakainkemudianbukanlah argumentasi,maksudnya adalah penjesalan atau keterangan tentang adanya Tuhan Allah. Inipun mendukung pengertian usaha manusia untuk berteologi.
Berikut dikmaksud beberapa argumentasi yang menjelaskan tentang adanya Tuhan Allah,antara lain:

a. Orang Damal mengakui bahwa Tuhan Allah itu pasti ada dan Nyata.

Argumentasi tentang keberadaan Tuhan Allah yang pasti ada dan nyata disebut dengan argumentasi onologis dari (istilah bahasa yunani Ontos dan logos, yang berarti ilmu pengetahuan tentang menjadi ada dan nyata). Argumentasi ini dimukakan oleh seorang toko gereja bernama Anselmus (1033-1109) yang menekankan bahwa Tuhan Allah itu benar- benar ada dan memiliki eksistensi dalam pengertian orang percaya kemudian argumentasi ini direfeleksikan oleh Agustinus (seorang Uskup/Bapa Gereja) dengan mengatakan bahwa setiap manusia cenderung memiliki perasaan yang kudus (sensus divinalitis) untuk menghubungkan atau memiliki keterikatan dengan Tuhan (semen religionis). Jadi setiap manusia memiliki kecakapan untuk menggenal Tuhan melalui indranya.
Yakni pernyataan Tuhan Allah sendiri yang disampaikan melalui Alkitab (Roma 1:18,dst.).

 b. Orang Damal Menceritakan Tuhan Allah itu Raya

Pasti ada satu pribadi yang menciptakan jagad raja atau dunia seisinya. Pencipta itu adalah Tuhan Allah. Argumentasi ini ini juga di sebut dengan istilah (Wom wonem kamoak emenaweak ungkatere)(kosmologis)=kosmos=jagad raya. Memang benar bahwa kosmos atau jagad raya ini mempunyai sebab musabab yang tiada akhir. Namun harus ada sebab pertama (dalam bahasa latin disebut prima causa secara mutlak,yakni Tuhan Allah sendiri. Dengan demikian,sang pencipta atau sang Khalik langit dan bumi adalah Tuhan Allah. Oleh sebab itu,jagad raya ini menceritakan siapa yang menciptakannya.
Pengertian ini memiliki makna penting,yaitu dunia yang mrupakan karja kekudusan Allah juga menjadi sasaran kasih Allah.Oleh sebab itu ada relasi aktif penciptaan (makhluk) dengan Tuhan Allah yang terkait erat dalam cinta kasih (Yohanes 3:16).

KEPEMIMIPINAN TRADISIONAL SUKU DAMAL  ( KEPALA SUKU)

Dalam kebudayan Suku Damal, kepala suku disebut juga dengan pemimpin adat,  pemimpin adat itu sendiri  di bagi menjadi lima bagian dan memiliki peranannya masing-masing, yaitu
1.      Menagawan
2.      Kalwang
3.      Dewan Adat
4.      Wem Wang
5.      Wem  mum
           Dalam kebudayaan suku Dalam criteria untuk menjadi pemimpin adat, tidak harus ditentukan oleh garis keturunan. Pemimpin dapat muncul secara alamiah oleh proses waktu dan situasi social, serta lingkungan ekologis yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan taradisional pada tingkat budaya mereka sendiri.
           Kepemimpinan dalam kebudayaan suku Damal merupakan suatu peranan atau tugas yang kompleks, sehingga cirri-ciri, tipe, gaya, dan fungsi serta peranan-peranan dan model kepemimpinan yang di per
            Lukan bersifat situasional. Artinya seorang figur pemimpin formal maupun informal dalam pandangan tradisional dapat melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan sesuai dengan karakteristik kebudayaan masyarakat tradisional tersebut.






1.     Menagawan ( pemimpin)
Seorang pemimpin dengan sebutan menagawan dalam kebudayaan Damal adalah seorang figure yang bijaksana dan dapat menepati janji sesuai skala tujuan, skala waktu dan skala metode. Menagawan berkewajiban untuk memastikan cukup makanan, minuman, serta bentuk kesejahteraan lainnya. Dia harus mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakatnya. Seorang Menagawan harus memperjuangkan keadilan dan pemerataan dengan landasan satu untuk semua dan semua untuk satu.
Dari uraian diatas, bahwa untuk menjadi seorang Menagawan harus memiliki perilaku kepemimpinan dengan cirri-ciri sebagai berikut:
·         Kemampuan menggunakan harta benda (Ekonomis)
·         Orang-orang marjinal yang memiliki lahan tanah yang luas, dengan ternak babi dalam jumlah banyak.
·         Dapat menyelenggarakan pesta adat berupa: babi, keladi, tebu dan buah pandan untuk member makan kepada orang banyak.
·         Memimiliki kemampuan dan keterampilan khusus dalam pertukaran kulit bia (uang batu), dan investasi modal melalui saluran-saluran media pasar.
·         Dapat mengawinkan anak-anak, keponakan dan bahkan orang tidak mampu.
·         Kemampuan mengambil pohon keputusan dengan pertimbangan intuitif secara cepat dan tepat sasaran.
·         Mempunyai tipe kepemimpinan kharismatik dengan kekuatan ajaib.
·         Memiliki keterampilan dalam intervensi situasional untuk menyelesaikan berbagai konflik situasi di masyarakat.
·         Tidak banyak memberikan janji-janji palsu, tetapi dapat menepati janji.
·         Memiliki kemampuan untuk mempersatukan kelompok etnis yang berbeda.
·         Dapat membangun tertib moral dan integritas masyarakat dengan member contoh yang baik. Dalam hal ini tidak diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi.
·         Siap sediah melayani semua orang kapan dan dimana saja, tanpa diskriminasi atau pilih kasih
        Jika keduabelas cirri perilaku tersebut diatas melekat dalam diri seseorang, dia pasti mendapatkan gelar Menagawan (kepala Suku). Yaitu menjadi pemimpin formal maupun informal di masyarakat. Oleh karena itu, hakekat dari pengertian Menagawan  sebenarnya adalah pemimpin popular bukan pempimpin tugas atau pemimpin fungsional dalam arti sebenarnya.

2.     Kal Wang (Kepala)
              Dalam kebudayaan Damal, predikat Kal wang adalah pemimpin informal yang di akui dan dihargai sebagi kepala suku, ketua dewan adat, tokoh pemudah ataupun kepala dusun. Pengakuan publik terhadap status mereka biasanya didapatkan dengan cara me manipulasi “orang-orang” dengan persepsi terhadap situasi, kepentingan dan keputusan mereka.
               Sifat kepemimpinan Kalwang terbatas pada peranan tugas sesuai dengan situasi dan fungsinya. Dan bahkan aktivitasnya lebih terfokus pada hal-hal yang berhubungan lanngsung dengan adat_ istiadat etnis yang di wakilinya. Mereka di pandang sebagai mediator yang tepat dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat.
Seorang figure pemimpin situasional dalam kebudayaan Damal dengan gelar KAL WANG memiliki cirri-ciri perilaku sebagai berikut:
·         Keahlian berbicara atau berdebat sebagai orator alamiah.
·         Memiliki kemampuan berpikir logis dan rasional
·         Mempunyai keterampilan berkomunikasi dan bahasa budaya sub-kultur etnis.
·         Memahami, menguasai dan mengerti bahasa tulisan, lisan, kiasan, perumpamaan, lukisan, ilustarasi dan simbol-simbol lain yang releval dengan konteks persoalan yang sedang dihadapi.





Namun seiring dengan perkembangan waktu, tugas dan peran “Kalwang” semakin tidak popular di mata mata masyarakat. Figure kalwang dianggap tidak cocok  lagi pada situasi masa kini. Alasannya.
1.      Kalwang hanya banyak berbicara, tapi tidak pernah merealisasikan isi pembicaraannya.
2.      Tingkat kejenuhan anggota masyarakat terhadap figur kalwang yang tidak pernah diganti posisi. Mereka cenderung mempertahankan “status Quo” dari waktu ke waktu.
3. Dewan Adat
           Dewan adat memiliki hak otoritas dalam masyarakat. Mereka diberi gelar NARA NEM dan NARA WOLAN.  Ke dua istilah tersebut bermakna  untuk mengambarkan isi hati sanubari seorang pemimpin formal mapun informal dalam mengambil keputusan.
Tugas dan fungsi dewan adat dalam masyarakat Damal cukup kompleks. Mereka berwenang mengatur dan menentukan berbagai hal diantaranya:
·         Mengatur etika perilaku anggota masyarakat dengan penegakkan hokum adat.
·         Memberikan pertimbangan pada “pohon keputusan” tentang hokum moral menyakut baik-buruk, serta  hak dan kewajiban anggota komunitas.
·         Memberi peluang (kesempatan) bagi setiap anggota kelompok primer untuk menetukan pilihan sendiri tentang hak hidup dalam masyarakat (hak asasi manusia).
·         Memelihara, merawat, menjaga, mengawasi dan melarang atau menyetujui hal-hal yang menyangkut:
1.      Hak ulayat masyarakat adat atas tanah
2.      Pengaturan batas wilayah pemukiman penduduk suku-suku asli.
3.      Pengaturan norma-norma perkawinan dan hubungan-hubungan sosial antar etnis.



4.         Wem Wang
        Wem wang adalah seorang pemimpin yang menguasai atau dianggap memiliki kemampuan mengatur siasat, taktis dan strategi perang suku. Mereka dianggap memiliki kesaktian atau kekuatan mistik yang dapat mengalahkan musuhm, jadi figure Wem Wang sebenarnya pemimpin tugas yang hanya mengatur pasukan selama kegiatan perang suku berlangsung, sehingga mereka dapat disebut sebagai pemimpin situasional.

5.     Wem Mum

Wem Mum adalah seorang pokok perang yang bertanggungjawab atas pengorbanan jiwa selama perang suku. Figure pemimpin ini harus menanggung resiko tinggi, walaupun situasi perang suku telah selesai atau aman. Karena sewaktu-waktu pihak korban dapat menuntut kembali atas pengorbanan sanak saudaranya yang gugur selama perang suku tersebut.
Dalam kebudayaan suku Damal, hukuman seperti ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik perang suku, sehingga tercipta perdamaian dan  hidup bertetangga yang rukun. Dengan demikian, hubungan permusuhan dapat dipulihkan kembali atau menjadi normal, tanpa ada sentiment dan dendam terselubung akibat peristiwa-peristiwa perang di masa lampau.

Namun, perjalanan menuju perdamaian tidak semudah yang dibayangkan. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan perundingan dan dialog kemanusian bersama kelopok korban. Langka-langka menuju perdamaian harus ditaati.

Setelah ada kesepakatan kedua belah pihak, rakyat melakukan pembersihan diri, yakni  membuang semua atribut perang. Jika tahap itu usai barulah dilaksanakan masak makanan dan memberikan makan kepada prajurit-perajurit yang selesai berlaga di medan pertempuran.

Tahapan berikut pihak penanggungjawab memasak makanan dan memberikan kepada kaum perempuan . tentu yang menjamu mereka adalah Wem Mum, setelah itu  persiapan untuk bakar batu maka makan bersama yang disebut woem kama (tidak ada perang lagi).

6. Melisik Tradisi Bayar Kepala Orang Yang Korban Dalam Perang

Cerita akhir dari perang suku masyarakat pengunungan tengah papua adalah bajar kepala. 
Berapapun jumlah korban akibat perang akan dibayar hingga tuntas. Namun porosesi pembayaran  kepala itu,memiliki berbagai tahapan ,mulai dari kumpul-kumpul dengan acara bakar batu hingga penentuan marga untuk menangung korban.
Pembayaran kepala atau pembayaran denda adat dalam orang yang korban dalam perang, biasah dilakukan oleh pelaku atau lebih dikenal dengan (Woemum),atau panglima perang. Ia harus membajar lunas seluru korban yang meninggal saat perang sesuai dengan permintaan pihak korban. Pembayaran kepala itu hingga ratusan juta rupia.
 Salah satu dari 14 korban perang di jayanti dari kubu julius miagoni,dimana pihak korban joel Dekme meminta Rp.500 juta untuk pembayaran kepala yang dilakukan di kali bengkok kelurahan Timika jaya Sp 2 ,kamis 12/11/2015.
 Walapun perang sudah tidak dilakukan,namun pembayaran kepala merupakan beban kepada (Woem wang ) panglima perang sehingga beban itu harus diselesaikan oleh (Woem Mum) pokok perang.
Jumlah uang kepala yang besar itu, pihak pokok perang (Woem mum) harus bekerja keras bersama marga yang sudah ditentukan untuk mencari uang. Dalam jumlah banyak,untuk mengumpulkan uang itu maka di gelar bakar batu yang sering dilakukan masyarakat pengunungan untuk mengumpulkan masyarakatnya secara gotong royong untuk mengumpulkan uang guna membantu pembarayaran korban yang sudah membantu mereka dalam perang adat.
Selain mengumpulkan uang itu pihak pelaku atau yang mempunyai hajatan harus memberikan dasar uang dalam jumlah yang besar dulu baru diikuti oleh orang atau suku lain yang diundang ke tempat bakar batu untuk disantap maka disitulah dilakukan pembicaraan dalam bahasa daerah kepada seluru umat yang hadir untuk melakukan pembayaran dan ada yang menyiapkan dalam junlah yang bervariasi.

7.Akibat perang itu terjadi

 Berbagai pengorbanan, baik itu korban waktu,pekerjaan,korban harta,maupun korban nyawa, Namun itu tradisi menurutnya; Sedangkan sisi positif akibat parang adat menurutnya adalah munculnya rasa kebersamaan,saling melindungi,saling hubungan kakerabatan, hingga mengangat adat kepada generasi muda untuk mengenal perang " Panah itu menunjukan kejantanan seorang pria dari masyarakat pengununganitu sendiri. Dalam arti generasi muda itu bisah tau dari mana moyang kita, itu pertama kali tinggal itu nilai sejarah yang diketahui setelah ada perang dari Orang Damal itu sendiri.

8. Perang Indentik Dengan Kekerasan
 Namun menurutnya selama ini perang indentik dengan kekerasan,namun bagimana kalau perang tersebut dijadikan sebagai suatu festival atau Tradisi yang tidak menghilangkan sisi budaya orang gunung itu sendiri.
 Selama ini tradisi perang itu dipicu akibat masalah keluarga atau masalah tanah dan sebagainya. Bagimana kalau brubah perang itu dalam bentuk festival sehingga bisah dikenal oleh orang luar,tanpa mengorbankan harta benda bahkan nyawa Manusia.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar