DASAR IMAN KRISTEN OLEH ORANG DAMAL
A. TUHAN ALLAH
Secara umum ,pembahasan ini memang akan memahami kesulitan,sebab kamu tidak mau penjelasan ini diuraikan secara teologis (pembicaraan menggenai Tuhan Allah) dan secara dokmatis (ajaran). Namun penjelasan secara teologis dan dogmatis ini merupakan keharusan. Oleh sebab itu, keteranggan ini dapat disederhanakan sehingga diharapkan dicerna oleh pembaca nonteologi. Melalui pembahasan melalui teologis dan dogmatis diharapkan para pembaca,khususnya nonteologis,akan memperoleh gambaran mendasar (walaupun minimal) tentang teologi ajaran-ajaran Kristen. Jadi penulis tidak bermaksud untuk menerangkan sesuai dengan ukuran kualitas dan kuantitas yang diajukan kepada pembaca atau yang berlatar belakang teologi.
1. Beberapa Argumentasi Tentang Adanya Tuhan Allah
Ada pendapat bahwa dalam konteks ini,istilah (Buku) lebih cocok dipakai daripada "Argumentasi". Namun istilah bukti terlalu normatif untuk menjelaskan tentang adanya Tuhan Allah. Dalam penjelasan ini yang dipakainkemudianbukanlah argumentasi,maksudnya adalah penjesalan atau keterangan tentang adanya Tuhan Allah. Inipun mendukung pengertian usaha manusia untuk berteologi.
Berikut dikmaksud beberapa argumentasi yang menjelaskan tentang adanya Tuhan Allah,antara lain:
a. Orang Damal mengakui bahwa Tuhan Allah itu pasti ada dan Nyata.
Argumentasi tentang keberadaan Tuhan Allah yang pasti ada dan nyata disebut dengan argumentasi onologis dari (istilah bahasa yunani Ontos dan logos, yang berarti ilmu pengetahuan tentang menjadi ada dan nyata). Argumentasi ini dimukakan oleh seorang toko gereja bernama Anselmus (1033-1109) yang menekankan bahwa Tuhan Allah itu benar- benar ada dan memiliki eksistensi dalam pengertian orang percaya kemudian argumentasi ini direfeleksikan oleh Agustinus (seorang Uskup/Bapa Gereja) dengan mengatakan bahwa setiap manusia cenderung memiliki perasaan yang kudus (sensus divinalitis) untuk menghubungkan atau memiliki keterikatan dengan Tuhan (semen religionis). Jadi setiap manusia memiliki kecakapan untuk menggenal Tuhan melalui indranya.
Yakni pernyataan Tuhan Allah sendiri yang disampaikan melalui Alkitab (Roma 1:18,dst.).
b. Orang Damal Menceritakan Tuhan Allah itu Raya
Pasti ada satu pribadi yang menciptakan jagad raja atau dunia seisinya. Pencipta itu adalah Tuhan Allah. Argumentasi ini ini juga di sebut dengan istilah (Wom wonem kamoak emenaweak ungkatere)(kosmologis)=kosmos=jagad raya. Memang benar bahwa kosmos atau jagad raya ini mempunyai sebab musabab yang tiada akhir. Namun harus ada sebab pertama (dalam bahasa latin disebut prima causa secara mutlak,yakni Tuhan Allah sendiri. Dengan demikian,sang pencipta atau sang Khalik langit dan bumi adalah Tuhan Allah. Oleh sebab itu,jagad raya ini menceritakan siapa yang menciptakannya.
Pengertian ini memiliki makna penting,yaitu dunia yang mrupakan karja kekudusan Allah juga menjadi sasaran kasih Allah.Oleh sebab itu ada relasi aktif penciptaan (makhluk) dengan Tuhan Allah yang terkait erat dalam cinta kasih (Yohanes 3:16).
KEPEMIMIPINAN TRADISIONAL SUKU
DAMAL ( KEPALA SUKU)
Dalam
kebudayan Suku Damal, kepala suku disebut juga dengan pemimpin adat, pemimpin adat itu sendiri di bagi menjadi lima bagian dan memiliki
peranannya masing-masing, yaitu
1. Menagawan
2. Kalwang
3. Dewan
Adat
4. Wem
Wang
5. Wem mum
Dalam kebudayaan suku Dalam criteria
untuk menjadi pemimpin adat, tidak harus ditentukan oleh garis keturunan.
Pemimpin dapat muncul secara alamiah oleh proses waktu dan situasi social,
serta lingkungan ekologis yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan taradisional
pada tingkat budaya mereka sendiri.
Kepemimpinan dalam kebudayaan suku
Damal merupakan suatu peranan atau tugas yang kompleks, sehingga cirri-ciri,
tipe, gaya, dan fungsi serta peranan-peranan dan model kepemimpinan yang di per
Lukan bersifat situasional. Artinya
seorang figur pemimpin formal maupun informal dalam pandangan tradisional dapat
melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan sesuai dengan karakteristik kebudayaan
masyarakat tradisional tersebut.
1.
Menagawan
( pemimpin)
Seorang
pemimpin dengan sebutan menagawan dalam kebudayaan Damal adalah seorang figure
yang bijaksana dan dapat menepati janji sesuai skala tujuan, skala waktu dan
skala metode. Menagawan berkewajiban untuk memastikan cukup makanan, minuman,
serta bentuk kesejahteraan lainnya. Dia harus mengatasi berbagai permasalahan
yang dihadapi masyarakatnya. Seorang Menagawan harus memperjuangkan keadilan
dan pemerataan dengan landasan satu untuk semua dan semua untuk satu.
Dari
uraian diatas, bahwa untuk menjadi seorang Menagawan harus memiliki perilaku
kepemimpinan dengan cirri-ciri sebagai berikut:
·
Kemampuan menggunakan harta benda
(Ekonomis)
·
Orang-orang marjinal yang memiliki lahan
tanah yang luas, dengan ternak babi dalam jumlah banyak.
·
Dapat menyelenggarakan pesta adat
berupa: babi, keladi, tebu dan buah pandan untuk member makan kepada orang
banyak.
·
Memimiliki kemampuan dan keterampilan
khusus dalam pertukaran kulit bia (uang batu), dan investasi modal melalui
saluran-saluran media pasar.
·
Dapat mengawinkan anak-anak, keponakan
dan bahkan orang tidak mampu.
·
Kemampuan mengambil pohon keputusan
dengan pertimbangan intuitif secara cepat dan tepat sasaran.
·
Mempunyai tipe kepemimpinan kharismatik
dengan kekuatan ajaib.
·
Memiliki keterampilan dalam intervensi
situasional untuk menyelesaikan berbagai konflik situasi di masyarakat.
·
Tidak banyak memberikan janji-janji
palsu, tetapi dapat menepati janji.
·
Memiliki kemampuan untuk mempersatukan
kelompok etnis yang berbeda.
·
Dapat membangun tertib moral dan
integritas masyarakat dengan member contoh yang baik. Dalam hal ini tidak
diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi.
·
Siap sediah melayani semua orang kapan
dan dimana saja, tanpa diskriminasi atau pilih kasih
Jika keduabelas cirri perilaku tersebut
diatas melekat dalam diri seseorang, dia pasti mendapatkan gelar Menagawan
(kepala Suku). Yaitu menjadi pemimpin formal maupun informal di masyarakat.
Oleh karena itu, hakekat dari pengertian Menagawan sebenarnya adalah pemimpin popular bukan
pempimpin tugas atau pemimpin fungsional dalam arti sebenarnya.
2.
Kal
Wang (Kepala)
Dalam kebudayaan Damal, predikat
Kal wang adalah pemimpin informal yang di akui dan dihargai sebagi kepala suku,
ketua dewan adat, tokoh pemudah ataupun kepala dusun. Pengakuan publik terhadap
status mereka biasanya didapatkan dengan cara me manipulasi “orang-orang”
dengan persepsi terhadap situasi, kepentingan dan keputusan mereka.
Sifat kepemimpinan Kalwang
terbatas pada peranan tugas sesuai dengan situasi dan fungsinya. Dan bahkan
aktivitasnya lebih terfokus pada hal-hal yang berhubungan lanngsung dengan
adat_ istiadat etnis yang di wakilinya. Mereka di pandang sebagai mediator yang
tepat dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat.
Seorang
figure pemimpin situasional dalam kebudayaan Damal dengan gelar KAL WANG
memiliki cirri-ciri perilaku sebagai berikut:
·
Keahlian berbicara atau berdebat sebagai
orator alamiah.
·
Memiliki kemampuan berpikir logis dan
rasional
·
Mempunyai keterampilan berkomunikasi dan
bahasa budaya sub-kultur etnis.
·
Memahami, menguasai dan mengerti bahasa
tulisan, lisan, kiasan, perumpamaan, lukisan, ilustarasi dan simbol-simbol lain
yang releval dengan konteks persoalan yang sedang dihadapi.
Namun
seiring dengan perkembangan waktu, tugas dan peran “Kalwang” semakin tidak
popular di mata mata masyarakat. Figure kalwang dianggap tidak cocok lagi pada situasi masa kini. Alasannya.
1. Kalwang
hanya banyak berbicara, tapi tidak pernah merealisasikan isi pembicaraannya.
2. Tingkat
kejenuhan anggota masyarakat terhadap figur kalwang yang tidak pernah diganti
posisi. Mereka cenderung mempertahankan “status Quo” dari waktu ke waktu.
3. Dewan Adat
Dewan
adat memiliki hak otoritas dalam masyarakat. Mereka diberi gelar NARA NEM dan
NARA WOLAN. Ke dua istilah tersebut
bermakna untuk mengambarkan isi hati
sanubari seorang pemimpin formal mapun informal dalam mengambil keputusan.
Tugas
dan fungsi dewan adat dalam masyarakat Damal cukup kompleks. Mereka berwenang
mengatur dan menentukan berbagai hal diantaranya:
·
Mengatur etika perilaku anggota
masyarakat dengan penegakkan hokum adat.
·
Memberikan pertimbangan pada “pohon
keputusan” tentang hokum moral menyakut baik-buruk, serta hak dan kewajiban anggota komunitas.
·
Memberi peluang (kesempatan) bagi setiap
anggota kelompok primer untuk menetukan pilihan sendiri tentang hak hidup dalam
masyarakat (hak asasi manusia).
·
Memelihara, merawat, menjaga, mengawasi
dan melarang atau menyetujui hal-hal yang menyangkut:
1. Hak
ulayat masyarakat adat atas tanah
2. Pengaturan
batas wilayah pemukiman penduduk suku-suku asli.
3. Pengaturan
norma-norma perkawinan dan hubungan-hubungan sosial antar etnis.
4.
Wem
Wang
Wem wang adalah seorang pemimpin yang
menguasai atau dianggap memiliki kemampuan mengatur siasat, taktis dan strategi
perang suku. Mereka dianggap memiliki kesaktian atau kekuatan mistik yang dapat
mengalahkan musuhm, jadi figure Wem Wang sebenarnya pemimpin tugas yang hanya
mengatur pasukan selama kegiatan perang suku berlangsung, sehingga mereka dapat
disebut sebagai pemimpin situasional.
5.
Wem
Mum
Wem
Mum adalah seorang pokok perang yang bertanggungjawab atas pengorbanan jiwa
selama perang suku. Figure pemimpin ini harus menanggung resiko tinggi,
walaupun situasi perang suku telah selesai atau aman. Karena sewaktu-waktu
pihak korban dapat menuntut kembali atas pengorbanan sanak saudaranya yang
gugur selama perang suku tersebut.
Dalam kebudayaan suku
Damal, hukuman seperti ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik
perang suku, sehingga tercipta perdamaian dan
hidup bertetangga yang rukun. Dengan demikian, hubungan permusuhan dapat
dipulihkan kembali atau menjadi normal, tanpa ada sentiment dan dendam
terselubung akibat peristiwa-peristiwa perang di masa lampau.
Namun,
perjalanan menuju perdamaian tidak semudah yang dibayangkan. Ada tahapan-tahapan
yang harus dilalui dengan perundingan dan dialog kemanusian bersama kelopok
korban. Langka-langka menuju perdamaian harus ditaati.
Setelah
ada kesepakatan kedua belah pihak, rakyat melakukan pembersihan diri, yakni membuang semua atribut perang. Jika tahap itu
usai barulah dilaksanakan masak makanan dan memberikan makan kepada
prajurit-perajurit yang selesai berlaga di medan pertempuran.
Tahapan berikut pihak
penanggungjawab memasak makanan dan memberikan kepada kaum perempuan . tentu
yang menjamu mereka adalah Wem Mum, setelah itu
persiapan untuk bakar batu maka makan bersama yang disebut woem kama
(tidak ada perang lagi).
6. Melisik Tradisi Bayar Kepala Orang Yang Korban Dalam Perang
Cerita akhir dari perang suku masyarakat pengunungan tengah papua adalah bajar kepala.
Berapapun jumlah korban akibat perang akan dibayar hingga tuntas. Namun porosesi pembayaran kepala itu,memiliki berbagai tahapan ,mulai dari kumpul-kumpul dengan acara bakar batu hingga penentuan marga untuk menangung korban.
Pembayaran kepala atau pembayaran denda adat dalam orang yang korban dalam perang, biasah dilakukan oleh pelaku atau lebih dikenal dengan (Woemum),atau panglima perang. Ia harus membajar lunas seluru korban yang meninggal saat perang sesuai dengan permintaan pihak korban. Pembayaran kepala itu hingga ratusan juta rupia.
Salah satu dari 14 korban perang di jayanti dari kubu julius miagoni,dimana pihak korban joel Dekme meminta Rp.500 juta untuk pembayaran kepala yang dilakukan di kali bengkok kelurahan Timika jaya Sp 2 ,kamis 12/11/2015.
Walapun perang sudah tidak dilakukan,namun pembayaran kepala merupakan beban kepada (Woem wang ) panglima perang sehingga beban itu harus diselesaikan oleh (Woem Mum) pokok perang.
Jumlah uang kepala yang besar itu, pihak pokok perang (Woem mum) harus bekerja keras bersama marga yang sudah ditentukan untuk mencari uang. Dalam jumlah banyak,untuk mengumpulkan uang itu maka di gelar bakar batu yang sering dilakukan masyarakat pengunungan untuk mengumpulkan masyarakatnya secara gotong royong untuk mengumpulkan uang guna membantu pembarayaran korban yang sudah membantu mereka dalam perang adat.
Selain mengumpulkan uang itu pihak pelaku atau yang mempunyai hajatan harus memberikan dasar uang dalam jumlah yang besar dulu baru diikuti oleh orang atau suku lain yang diundang ke tempat bakar batu untuk disantap maka disitulah dilakukan pembicaraan dalam bahasa daerah kepada seluru umat yang hadir untuk melakukan pembayaran dan ada yang menyiapkan dalam junlah yang bervariasi.
7.Akibat perang itu terjadi
Berbagai pengorbanan, baik itu korban waktu,pekerjaan,korban harta,maupun korban nyawa, Namun itu tradisi menurutnya; Sedangkan sisi positif akibat parang adat menurutnya adalah munculnya rasa kebersamaan,saling melindungi,saling hubungan kakerabatan, hingga mengangat adat kepada generasi muda untuk mengenal perang " Panah itu menunjukan kejantanan seorang pria dari masyarakat pengununganitu sendiri. Dalam arti generasi muda itu bisah tau dari mana moyang kita, itu pertama kali tinggal itu nilai sejarah yang diketahui setelah ada perang dari Orang Damal itu sendiri.
8. Perang Indentik Dengan Kekerasan
Namun menurutnya selama ini perang indentik dengan kekerasan,namun bagimana kalau perang tersebut dijadikan sebagai suatu festival atau Tradisi yang tidak menghilangkan sisi budaya orang gunung itu sendiri.
Selama ini tradisi perang itu dipicu akibat masalah keluarga atau masalah tanah dan sebagainya. Bagimana kalau brubah perang itu dalam bentuk festival sehingga bisah dikenal oleh orang luar,tanpa mengorbankan harta benda bahkan nyawa Manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar